Perubahan teknologi, kebutuhan industri, hingga pola karier global menuntut sistem pendidikan yang lebih lincah, relevan, dan visioner. Unesa menghadirkan inovasi layanan administrasi neo yudisium yang mempermudah dan menyederhanakan proses kelulusan mahasiswa.
Direktur Direktorat Pendidikan dan Transformasi Pendidikan (DPTP) Unesa, Prof Rooselyna Ekawati PhD mengatakan, Unesa terus mendorong berbagai inovasi untuk memastikan lulusan Unesa tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga siap melanjutkan perjalanan akademik maupun profesional secara lebih strategis.
Salah satu inovasi untuk mempercepat transformasi layanan administrasi adalah melalui Neo Yudisium. Sistem ini, dirancang untuk menyederhanakan proses kelulusan mahasiswa.
“Ketika mahasiswa mendaftar Surat Penetapan Kelulusan (SPK), mereka otomatis langsung terdata untuk yudisium dan wisuda,” ujar Rooselyna.
Neo Yudisium merupakan pembaruan dari aplikasi yudisium yang telah ada dengan penambahan fitur integrasi pendaftaran SPK dan yudisium dalam satu kali proses pendaftaran.
“Melalui sistem ini, ketika mahasiswa melakukan pendaftaran, status kelulusan akan langsung menghasilkan output berupa surat keterangan yang menyatakan bahwa mahasiswa tersebut telah lulus dan terdaftar dalam yudisium,” jelasnya.
Integrasi itu, kata Rooselyna, diharapkan dapat mempermudah proses administrasi, khususnya dalam penetapan kelulusan di PDDikti, pemrosesan PISN, serta penerbitan ijazah, meskipun mahasiswa yang bersangkutan tidak mengikuti prosesi wisuda.
Langkah tersebut, hadir sebagai solusi atas persoalan klasik yang kerap terjadi, ketika mahasiswa telah menyelesaikan syarat akademik tetapi terlambat atau lupa mendaftar wisuda.
“Dengan integrasi sistem berbasis teknologi informasi, proses menuju kelulusan diharapkan menjadi lebih efisien dan praktis bagi mahasiswa,” ungkapnya.
Selain Neo Yudisium, inovasi lain yang dilakukan Unesa adalah percepatan studi melalui program fast track. Saat ini, ada delapan program studi unggul dan berstandar internasional telah memiliki program fastrak S1 ke jenjang S2 lebih awal.

“Melalui skema ini, mahasiswa semester akhir yang tinggal menyelesaikan skripsi dapat mulai mengambil jalur percepatan ke jenjang magister,” terangnya.
Program tersebut, tambahnya, dirancang agar mahasiswa dapat mengefisienkan waktu studi. Model serupa juga berlaku untuk jenjang S2 menuju S3. Namun, keberhasilan fast track tetap sangat bergantung pada kesiapan dan kapasitas mahasiswa dalam menjalani ritme akademik yang lebih intensif.
Transformasi juga menyentuh aspek kurikulum. DPTP secara aktif melakukan evaluasi kurikulum dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Dinas Tenaga Kerja (Disnaker).
“Tujuannya memastikan pembelajaran di kampus benar-benar selaras dengan kebutuhan dunia kerja terkini,” tandasnya.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga menjadi perhatian serius. Unesa mulai merespons dengan menghadirkan mata kuliah khusus terkait AI di sejumlah program studi.
“Bukan sekadar pengenalan, tetapi diarahkan pada pengembangan perangkat dan pemanfaatan AI secara konkret sesuai bidang masing-masing,” bebernya.
Rooselyna menegaskan, untuk memperkuat kesiapan lulusan, Unesa juga membekali dengan Mata Kuliah Pengembangan Karir sebagai mata kuliah pilihan terkoordinasi universitas.
“Mata kuliah ini hadir untuk menjawab kebutuhan nonakademik mahasiswa, mulai dari membangun kepercayaan diri, orientasi karier, hingga kesiapan menghadapi proses rekrutmen kerja,” pungkasnya. @Shofi


