IKAUNESA.ID,-(Surabaya) – Dalam lanskap global yang terus bergerak dinamis, ketangguhan saja tidak cukup. Diperlukan sesuatu yang lebih, yakni kemampuan beradaptasi secara cepat, membaca perubahan, dan tetap bertahan di tengah ketidakpastian. Itulah semangat yang diusung dalam Wisuda ke-119 Unesa melalui tema “Wisudawan Unesa Tangguh, Mandiri, dan Adaptif untuk Resiliensi Global.”
Wakil Rektor 1 Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof Dr Martadi MSn, istilah “resiliensi” bukan sekadar jargon. Ia memaknainya sebagai kemampuan yang melampaui ketangguhan. Resiliensi adalah kombinasi antara daya tahan, kepekaan terhadap perubahan, dan kecepatan beradaptasi dalam situasi yang tidak menentu.
Pandangan itu, kata Martadi, berangkat dari realitas global yang kian kompleks. Konflik geopolitik, perubahan kebijakan ekonomi, hingga dinamika pasar tenaga kerja membuat masa depan tidak lagi bisa diprediksi secara sederhana. Dalam kondisi seperti itu, lulusan perguruan tinggi dituntut tidak hanya siap, tetapi juga sigap dalam mengambil keputusan.
“Mahasiswa harus siap menghadapi dunia nyata yang tidak selalu ideal. Mereka harus tahu apa yang harus dilakukan di tengah ketidakpastian,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, terang Guru Besar bidang Teknologi Pembelajaran Seni Budaya itu, Unesa tidak hanya berfokus pada kelulusan, tetapi juga pada kesiapan lulusan menghadapi dunia pasca-kampus.
Secara umum, jelas Martadi, terdapat tiga jalur utama yang menjadi orientasi lulusan, yakni bekerja, melanjutkan studi, atau menjadi wirausahawan. Ketiga jalur itu menjadi dasar dalam merancang pengalaman belajar mahasiswa, sehingga setiap aktivitas yang diikuti memiliki relevansi dengan tujuan masa depan mereka.

Sebagai bentuk konkret dari upaya tersebut, tambah Martadi, Unesa menghadirkan 10 program terobosan yang dirancang untuk memperkuat kesiapan mahasiswa secara akademik maupun nonakademik. Kesepuluh program terobosan itu adalah:
- Pemetaan Orientasi Karier Dini. Program ini memberikan arahan mahasiswa menentukan pilihan karier sejak semester dua menuju semester tiga. Dengan pemetaan ini, mahasiswa dapat memilih kegiatan, organisasi, hingga strategi belajar yang sesuai dengan tujuan mereka, baik itu bekerja, studi lanjut, maupun berwirausaha.
- Penguatan Jalur Studi Lanjut dan Beasiswa. Mahasiswa yang ingin melanjutkan ke jenjang S2 didorong untuk membangun portofolio akademik sejak awal. Mereka juga dibekali informasi dan strategi dalam mengakses berbagai peluang beasiswa, termasuk melalui berbagi pengalaman dari dosen dan alumni.
- Integrasi Kegiatan Akademik dengan Dunia Kerja. Mahasiswa yang memilih jalur kerja diarahkan untuk mengembangkan keterampilan yang relevan, seperti komunikasi dan literasi digital. Kegiatan kampus diselaraskan dengan kebutuhan industri agar lulusan lebih siap bersaing.
- Pengembangan Kewirausahaan Berbasis Karya. Bagi mahasiswa yang memilih menjadi wirausahawan, tugas akhir dapat diarahkan dalam bentuk karya bisnis. Pendekatan ini memberi ruang bagi mahasiswa untuk membangun usaha nyata sebagai bagian dari proses akademik.
- Percepatan Studi dan Bimbingan Tugas Akhir. Sistem pembimbingan diperkuat agar mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu. Bahkan, mahasiswa didorong mulai mengerjakan tugas akhir sejak masa magang di semester 6, sehingga penyelesaian di semester akhir menjadi lebih ringan.
- Program Fast Track S1–S2. Mahasiswa berprestasi diberi kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 dalam waktu lima tahun. Skema ini memungkinkan percepatan karier akademik sekaligus efisiensi waktu dan biaya.
- Yudisium Terintegrasi (Neo-Yudisium). Sistem administrasi disederhanakan melalui integrasi proses yudisium dan wisuda. Mahasiswa yang telah memenuhi syarat tidak perlu mendaftar berulang, karena seluruh proses dilakukan secara otomatis.
- Distribusi Ijazah Saat Wisuda. Sebagai bentuk peningkatan layanan, ijazah ditargetkan sudah dapat diterima langsung saat wisuda. Langkah ini menghapus praktik penundaan yang selama ini kerap terjadi.
- Penguatan Peran Alumni dan Diaspora (Mawal). lumni dilibatkan secara aktif dalam memberikan inspirasi dan bimbingan kepada mahasiswa. Mereka dihadirkan sesuai bidang karier masing-masing, sehingga mahasiswa mendapatkan gambaran yang lebih konkret dan relevan.
- Evaluasi Kurikulum Berbasis Kebutuhan Dunia Kerja. Unesa mulai mengumpulkan umpan balik dari pengguna lulusan, seperti perusahaan dan perguruan tinggi lanjutan. Data ini digunakan untuk menyempurnakan kurikulum agar lebih sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Melalui berbagai program tersebut, kami berupaya memastikan bahwa setiap mahasiswa tidak hanya lulus, tetapi juga memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi tantangan global,” jelas Martadi. @shofi


