Rosalia Amalia Ayuning Lestari (22 tahun) merupakan lulusan S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Hebatanya, peraih IPK 3,84, yang akrab dipanggil Rosa itu kini sudah bekerja profesional menjadi asisten pelatih di salah satu klub basket internasional.
Rosa tumbuh dalam keluarga yang sangat dekat dengan dunia olahraga. Ayahnya adalah guru olahraga di sebuah SMP di Tulungagung, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga sekaligus wiraswasta.
Ia memilih kuliah di Unesa, selain karena dua kakaknya kuliah di sana, ayahnya juga alumnus dari jurusan yang sama yaitu Pendidikan Kepelatihan Olahraga. “Jadi, dari awal keluarga sudah full support ketika saya mau kuliah keolahragaan,” ujarnya.
Perjalanannya di Unesa dimulai pada 2021, tepat di masa pandemi. Rosa termasuk “angkatan Covid.” Selama dua semester, ia harus menjalani kuliah secara daring. Masa itu menjadi periode yang tidak mudah. “Belajar olahraga lewat layar itu aneh banget. Rasanya kurang efektif karena tidak bisa praktik langsung,” katanya.
Namun di balik keterbatasan itu, ia justru belajar menjadi pribadi yang mandiri. Ia mencari referensi sendiri, menonton video pelatihan olahraga, dan berdiskusi dengan dosen maupun teman-temannya secara daring. Saat perkuliahan akhirnya kembali dilakukan secara tatap muka, ia seperti menemukan kembali semangat berkuliah.

Momentum penting datang ketika ia menjalani magang di DBL Academy Pakuwon City Mall Surabaya, sebuah akademi basket dengan sistem pelatihan bertaraf internasional. Selama empat bulan di sana, Rosalia belajar bukan hanya tentang teknik melatih, tetapi juga memahami dinamika peserta dari berbagai negara.
“Anak-anaknya bukan cuma dari Indonesia, tapi juga dari Malaysia, India, Korea Selatan, sampai Singapura. Mereka ikut latihan karena orang tuanya kerja di Indonesia,” tuturnya.
Tantangan terbesar bagi Rosalia justru bukan pada kemampuan teknis, melainkan komunikasi. Terkadang, ia harus memakai bahasa Inggris atau memakai gestur tubuh. Baginya, setiap anak punya karakter dan latar belakang yang berbeda sehingga pendekatannya juga berbeda.
Dari situ, keberaniannya diuji. Ia yang mengaku pemalu dan kurang suka bersosialisasi, mencoba melawan dirinya sendiri. Seusai magang, Rosalia memberanikan diri mengirim CV ke DBL Academy untuk melamar kerja sebagai asisten pelatih paruh waktu. Tak disangka, lamaran itu diterima. Sejak saat itu, dunia profesional benar-benar membuka pintu untuknya. “Saya mulai dari membantu memberi materi, lalu lama-lama dipercaya jadi PIC (person in charge) untuk kelas usia 5–6 tahun,” ujarnya.
Kini, Rosalia tak hanya membantu head coach menyusun materi latihan, tetapi juga menangani salah satu kelas di akademi yang totalnya secara keseluruhan diikuti sekitar 500 anak dengan rentang usia tiga hingga delapan belas tahun. “Anak-anak kecil itu jujur banget, kalau mereka nggak suka, langsung keliatan. Tapi di situlah seninya melatih. Saya harus bisa mengubah latihan jadi menyenangkan, bukan menakutkan,” ungkapnya.
Dari ruang latihan itu, ia belajar kesabaran, empati, dan bagaimana membangun komunikasi efektif lintas budaya. Meski kesibukannya padat, Rosalia tetap mampu menyeimbangkan antara kuliah dan pekerjaan. Apalagi, pihak DBL Academy sangat pengertian sehingga jadwalnya bisa disesuaikan dengan KRS kuliah. “Jadi, selama ini bisa jalan beriringan,” tutur penulis skripsi berjudul ‘Analisis Perkembangan Motorik Kasar dan Motivasi Latihan Siswa HOOPS Kids Usia 5-6 Tahun Melalui Permainan Bola Basket Modifikasi di DBL Academy PTC Surabaya’.
Reporter: @putra
Editor: @basyir



