“Bahasa Mandarin bagi saya bukan hanya sarana bicara. Tapi jendela yang membuka cara pandang baru terhadap dunia.” Venna Tanujaya
Venna Tanujaya (22 tahun) merupakan lulusan Prodi S1 Pendidikan Bahasa Mandarin Fakultas Bahasa dan Seni Unesa. Perempuan yang belum lama diwisuda itu, kini sudah bekerja sebagai penerjemah bahasa Mandarin di PT Anlan Biotechnology Indonesia, sebuah perusahaan maklon minuman serat dan suplemen kesehatan asal Tiongkok.
Bagi Venna, yang lulus dengan IPK 3,96 itu, bahasa Mandarin bukan sekadar alat komunikasi, tapi jembatan yang membawa menembus dunia. “Bahasa Mandarin bagi saya bukan hanya sarana bicara, tapi jendela yang membuka cara pandang baru terhadap dunia,” ujarnya.
Venna menceritakan, kecintaannya pada bahasa tumbuh sejak SMA, dan terus berakar hingga kuliah di Unesa. Ia semakin yakin bahasa dapat menjadi jalan menuju masa depan. Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu setenang ucapannya. Beberapa minggu sebelum persiapan wisuda, ayahnya, Tan Kiet Hua berpulang akibat serangan jantung.
Kehilangan sosok yang dicintai, membuat Venna belajar tentang arti keteguhan. Apalagi, dunia kerja yang digeluti juga menuntut kecepatan, disiplin, dan daya tahan tinggi. Lingkungan kerja yang didominasi teman asal Tiongkok membuatnya terbiasa dengan ritme serba cepat dan efisien.
Dari situ, ia memahami makna fokus, ketepatan waktu, dan keteguhan hati. Bagi Venna, bekerja lintas budaya juga berarti belajar memahami cara berpikir baru. “Mereka sangat menghargai hasil, tapi juga saling mendukung,” katanya tersenyum. “Itu menular ke saya,” tambahnya.

Selama kuliah, Venna dikenal tekun dan penuh inisiatif. Ia terbiasa begadang hingga dini hari untuk menyelesaikan skripsi di sela jadwal kuliah dan kegiatan organisasi. Karya ilmiahnya berjudul Makna Standar Kecantikan dalam Poster Iklan Kosmetik Carslan memperlihatkan perpaduan antara ketertarikan akademik dan kecintaannya terhadap dunia kecantikan.
“Topik itu terinspirasi dari pengalaman saya sebagai penerima beasiswa Confucius Institute, yang mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Central China Normal University (CCNU) Wuhan selama satu semester,” terangnya.
Selama di Wuhan, Venna tertarik dengan salah satu merek kosmetik Carslan yang memiliki desain elegan dan pesan visual yang kuat, tapi harganya tetap terjangkau. Pengalaman itu menjadi titik balik penting dalam pandangannya tentang budaya dan representasi perempuan.
Di tengah perbedaan bahasa dan kebiasaan itu, ia belajar beradaptasi dan menghargai keberagaman. Apalagi, teman-temannya datang dari berbagai benua seperti Eropa, Amerika, Asia Tengah, hingga Afrika. “Dari merekalah saya memahami arti toleransi yang sesungguhnya. Kami belajar bersama dan saling menghargai perbedaan,” ungkapnya.
Bagi Venna, keberhasilan bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan, tetapi siapa yang mampu tetap berjalan meski jalannya sunyi. Ia belajar bahwa ketekunan dan keberanian dapat menembus batas apa pun. Bahkan jarak ribuan kilometer dari Surabaya ke Wuhan hingga ke Jakarta.
Kini, setiap kali menatap deretan huruf Mandarin di layar komputernya, Venna tahu perjuangannya belum berakhir. Ia sedang menulis bab baru dalam hidupnya. Sebuah bab yang dimulai dengan kehilangan, tetapi tumbuh menjadi kisah tentang kekuatan, cinta, dan keyakinan. Ia menutup percakapan dengan senyum tipis, matanya teduh menatap ke depan. “Kalau ada yang saya pelajari dari semua ini, Tuhan tidak pernah terlambat memberi waktu terbaik,” pungkasnya.
Reporter: @sindy
Editor: @Bassyir


