Cerita Lulusan FIP Unesa yang Terinspirasi  Jadi Guru Sejak SD

Nur Indah Oktatiana Sya’bani, lulusan terbaik Fakultas Ilmu Pendididikan (FIP) Unesa periode 117 dengan IPK 3,89.

Nur Indah Oktatiana Sya’bani, atau akrab disapa Tia, terpilih menjadi Wisudawan Terbaik Fakultas Ilmu Pendididikan (FIP) Unesa periode 117 dengan IPK 3,89. Wisudawan kelahiran Surabaya, 21 Oktober 2002 itu mengaku terinspirasi sosok guru hingga membawanya memilih prodi PGSD Unesa.

Tia merupakan anak pertama dari lima bersaudara pasangan Gandhi Wibisono dan Chusnul Chotimah. Ketertarikannya dengan profesi guru, sudah tumbuh sejak ia duduk di SDN Menanggal 1 Surabaya. Ia mengaku terkesan dengan cara guru-gurunya mengajar. “Mereka mampu memahami karakter tiap siswa dengan penuh kesabaran,” ujarnya.

Selain itu, ada satu peristiwa yang begitu membekas saat ia kelas 6 SD. Saat itu, Tia yang dipercaya menjadi ketua kelas mendapatkan tugas pelajaran prakarya. Tapi, karena tugas matematika belum selesai, ia menundanya. Nah, ketika guru prakarya kembali, ia mengira akan dimarahi. Ternyata, sang guru hanya menegur dengan cara yang lembut tapi penuh makna.

“Saya tidak memarahi, tapi diberi nasihat tentang pentingnya tanggung jawab dan kedisiplinan terhadap waktu. Cara itu membuat saya terkesan. Rasanya menyenangkan sekali bisa punya sosok guru seperti itu di kelas,” kenangnya.

Minat menjadi guru semakin kuat ketika masuk SMA. Saat menjalani tes kepribadian dan bakat, Tia menunjukkan potensinya di bidang sosial dan pendidikan. Keyakinan itu pun membuatnya mantap memilih Prodi PGSD Unesa sebagai tempat belajar dan menempa diri menjadi calon pendidik profesional.

Pilihan Tia tidak salah. Di Unesa, mahasiswi yang memiliki hobi menari itu merasa benar-benar menemukan rumah yang sesuai dengan jati dirinya. Di kampus Rumah Para Juara itu, ia tidak hanya belajar teori pendidikan, tapi juga memahami karakter anak, mengenali berbagai pendekatan mengajar, dan membentuk diri menjadi pribadi yang sabar, empatik, dan siap mendidik dengan hati.

Selama kuliah, ia terus mengasah kemampuan profesional dan kompetensi pendidiknya dengan mengikuti berbagai program pengembangan diri baik di dalam maupun luar kampus. Ia mengikuti Program Surabaya Mengajar (PSM) dan Kampus Mengajar (KM). Dengan kegiatan itu, ia berkesempatan langsung mempraktikkan teori selama kuliah mulai dari mulai merancang rencana pembelajaran, mengelola kelas, hingga menyesuaikan strategi mengajar dengan karakter siswa yang beragam.

Dari pengalaman lapangan itulah muncul ide skripsi berjudul “Pengembangan Media Ajar NIO Studio untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Persebaran Flora dan Fauna di Indonesia.” Melalui penelitian berbasis Research and Development (R&D), Tia menciptakan NIO Studio, media pembelajaran berbasis website interaktif yang memuat permainan edukatif dan visual menarik. Penelitiannya terbukti efektif meningkatkan pemahaman siswa sekaligus membantu guru menjelaskan materi dengan cara yang lebih menyenangkan.  

“Awalnya, saya melihat siswa tidak semangat belajar peta dan hewan. Akhirnya, saya buat media yang lebih interaktif supaya mereka tertarik. Hasilnya mendapat tanggapan positif dari sekolah ketika melaksanakan uji coba,” terangnya.

Keberhasilan menjadi wisudawan terbaik, bagi Tia, bukanlah hasil instan, melainkan buah dari keseimbangan antara fokus akademik dan pengembangan diri. Setiap kali mendapatkan tugas atau proyek dari dosen, ia selalu membaca terlebih dahulu dan menilai tingkat kesulitannya sesuai dengan kemampuannya.  

Selain itu, ia juga selalu berusaha menjaga keseimbangan emosional dengan melakukan manajemen stres, memperhatikan pola tidur dan makan, serta meluangkan waktu untuk melakukan hobi seperti menari dan membaca novel. “Ke depan, saya berencana melanjutkan studi magister sambil membuka bimbingan belajar. Saya ingin menjadi guru yang tidak hanya mengajar, tapi juga menginspirasi para murid,” tandasnya.

Reporter: @ja’far

Editor: @Basyir Aidi

Share:

Berita lainnya

Unesa Juara Umum Pomprov III Jatim

ikaunesa.id – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tampil sebagai juara umum dengan meraih 162 medali, dengan rincian 69 medali emas, 49 medali perak dan 53 medali perunggu. Torehan ini melebihi perolehan medali di Pomprov II Jatim 2023 lalu di Jember yang hanya mengoleksi 100 medali dengan rincian 41 emas, 32 perak

Talkshow IKA Unesa: Akses Pendidikan, Industrialisasi dan Pemberantasan Korupsi jadi Solusi

IKAUNESA.ID,- SURABAYA—Masa depan Indonesia yang tergambar dalam visi Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan kualitas manusianya. Kualitas manusia ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Karena itu, akses dan kualitas pendidikan harus benar-benar diperhatikan. Setelah anak-anak bangsa berproses melalui pendidikan, maka selanjutnya adalah perlu industrialisasi untuk menyerap sumber daya dan kompetensi yang dihasilkan. Di

Jl. Raya Kampus Unesa, Lidah Wetan, Kec. Lakarsantri, Surabaya, Jawa Timur 60213

© 2026 All Rights Reserved.

Scroll to Top